Satu hari, seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya dalam suatu perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang di sekitarnya. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin.
Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah menanyai anaknya :"Bagaimana perjalanannya ,Nak?". "Perjalanan yang hebat ,Yah". "Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?",tanya si ayah. "O tentu saja," jawab si anak. "Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,kata si bapak.
Si anak menjawab:
"Saya melihat bahwa kita mempunyai satu anjing, tapi mereka mempunyai empat anjing. Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya. Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari. Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedangkan teras mereka adalah horizon yang luas."
"Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang. Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain. Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan mereka sendiri. Kita punya tembok di sekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka."
Ayah si anak hanya bisa bungkam.
Lalu si anak menambahkan kata-katanya,"Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita."
-------------------------------------------------------------------------
Saya pikir jarang sekali ada pemikiran polos seperti cerita anak di atas. ada pepatah "rumput halaman tetangga lebih hijau dari rumput halaman kita." tapi di sisi lain ini adalah perumpamanan yang indah.
Jadi, coba bayangkan kalau anda di posisi si keluarga miskin tersebut, anda pasti tidak menyadari betapa miskinnya si kaya dibandingkan anda. Membuat anda bertanya-tanya apa yang akan terjadi bila kita mengucap syukur atas segala yang kita miliki, dari pada kuatir tentang apa yang tidak kita miliki.
Hargailah setiap hal yang anda miliki, entah itu udara yang anda hirup, sinar matahari yang menyinari kita, keluarga di sekitar kita yang selalu ada untuk kita, teman-teman kita, orang-orang di sekitar kita. Hargailah setiap orang di sekitar anda, dan tolong mereka dengan memberi kesegaran baru pada cara pandang dan paradigma mereka.
Hidup ini terlalu singkat dan teman-teman (sebanyak apapun) terlalu sedikit.
Kamis, 28 Mei 2009
Rabu, 20 Mei 2009
mari kita katakan tidak bagi segala makanan dari hiu
Saya sedih sekali ketika melihat suatu acara di discovery channel. Acara tersebut tentang perburuan untuk sirip lunak hiu yang terkenal sangat mahal dan bergizi.
Dan ternyata cara membunuh hiu yang langka dan dilindungi itu pun sangat sadis. Para nelayan yang menangkapnya memotong sirip-siripnya hidup-hidup, lalu mereka begitu saja membuang hiu yang sekarat tersebut, yang sudah mengeluarkan banyak darah itu, begitu saja ke laut. Bayangkan saja kalau tangan kita dipotong hidup-hidup, lalu kita dibiarkan mati perlahan-lahan karena kehabisan darah begitu saja. Sadis sekali, hanya ada dua kata itu yang terlintas di pikiran saya saat itu.
Padahal dengan tingkat kehidupan hiu yang lebih rendah dibandingkan dengan ikan lain(seperti tongkol), hiu banyak sekali diburu dan dibunuh hanya untuk siripnya. Sehingga populasi hiu di dunia saat ini merosot drastis. bahkan mendekati kepunahan.
Bahkan para nelayan seringkali tidak memilih-milih hiu tangkapannya. Hiu yang masih kecil pun(bayi hiu) dibunuh mereka. Padahal hiu yang yang masih kecil tersebut masih memiliki hak untuk hidup dan berkembang biak guna mempertahankan spesies mereka di dunia ini.
Terkadang hiu-hiu yang sekarat tersebut, yang dibiarkan mati pelan-pelan di laut menjadi makanan bagi ikan lain, burung-burung laut, bahkan kawanan hiu itu sendiri. Jujur saja, saya tidak bisa menyalahkan para nelayan yang menangkap hiu tersebut. Karena menurut mereka, mereka terpaksa melakukan hal itu untuk mencari nafkah.
Dan masih banyak negara-negara di dunia ini yang masih belum sadar akan pentingnya hiu bagi ekosistem dunia ini, sehingga mereka belum membuat undang-undang yang nyata bagi perlindungan hewan-hewan langka. Termasuk Indonesia tanah air kita yang tercinta.
Jadi sebagai tindakan nyata agar melindungi hiu dari kepunahan, marilah kita masyarakat dunia katakan tidak pada segala produk dari hiu. Seperti makanan dari sirip ikan hiu, ataupun obat-obatan yang mengandung sirip bahkan hati/jantung hiu. Karena seperti yang kita ketahui, pasar perdagangan hiu yang terbesar berada di Asia.
Karena itu, marilah kita sebagai manusia yang memiliki akal dan budi, bisa memilih tindakan baik dari tindakan buruk. Dengan menolak semua produk dari hiu, saya percaya masa depan kita bisa selangkah lebih baik. Demikian artikel yang saya tulis, saya harap artikel ini dapat memberi anda sebuah pandangan baru unutuk menatap hidup ini. Yaitu kita harus menhargai dan menjaga semua mahkluk hidup ciptaan Tuhan YME. Saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari anda. Terimakasih.
Dan ternyata cara membunuh hiu yang langka dan dilindungi itu pun sangat sadis. Para nelayan yang menangkapnya memotong sirip-siripnya hidup-hidup, lalu mereka begitu saja membuang hiu yang sekarat tersebut, yang sudah mengeluarkan banyak darah itu, begitu saja ke laut. Bayangkan saja kalau tangan kita dipotong hidup-hidup, lalu kita dibiarkan mati perlahan-lahan karena kehabisan darah begitu saja. Sadis sekali, hanya ada dua kata itu yang terlintas di pikiran saya saat itu.
Padahal dengan tingkat kehidupan hiu yang lebih rendah dibandingkan dengan ikan lain(seperti tongkol), hiu banyak sekali diburu dan dibunuh hanya untuk siripnya. Sehingga populasi hiu di dunia saat ini merosot drastis. bahkan mendekati kepunahan.
Bahkan para nelayan seringkali tidak memilih-milih hiu tangkapannya. Hiu yang masih kecil pun(bayi hiu) dibunuh mereka. Padahal hiu yang yang masih kecil tersebut masih memiliki hak untuk hidup dan berkembang biak guna mempertahankan spesies mereka di dunia ini.
Terkadang hiu-hiu yang sekarat tersebut, yang dibiarkan mati pelan-pelan di laut menjadi makanan bagi ikan lain, burung-burung laut, bahkan kawanan hiu itu sendiri. Jujur saja, saya tidak bisa menyalahkan para nelayan yang menangkap hiu tersebut. Karena menurut mereka, mereka terpaksa melakukan hal itu untuk mencari nafkah.
Dan masih banyak negara-negara di dunia ini yang masih belum sadar akan pentingnya hiu bagi ekosistem dunia ini, sehingga mereka belum membuat undang-undang yang nyata bagi perlindungan hewan-hewan langka. Termasuk Indonesia tanah air kita yang tercinta.
Jadi sebagai tindakan nyata agar melindungi hiu dari kepunahan, marilah kita masyarakat dunia katakan tidak pada segala produk dari hiu. Seperti makanan dari sirip ikan hiu, ataupun obat-obatan yang mengandung sirip bahkan hati/jantung hiu. Karena seperti yang kita ketahui, pasar perdagangan hiu yang terbesar berada di Asia.
Karena itu, marilah kita sebagai manusia yang memiliki akal dan budi, bisa memilih tindakan baik dari tindakan buruk. Dengan menolak semua produk dari hiu, saya percaya masa depan kita bisa selangkah lebih baik. Demikian artikel yang saya tulis, saya harap artikel ini dapat memberi anda sebuah pandangan baru unutuk menatap hidup ini. Yaitu kita harus menhargai dan menjaga semua mahkluk hidup ciptaan Tuhan YME. Saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari anda. Terimakasih.
Selasa, 05 Mei 2009
Cangkir yang Cantik
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju pada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum aku menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.
Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum!" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! tERIAKKU LAGI. Tapi orang ini berkata "belum!"
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.
Wanita itu berkata "belum!" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong! hentikan penyiksaan ini! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli akan tangisanku. Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku di dekat kaca. Aku melihar diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang sangat cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lau menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
-----------------------------------------------------------
Sahabat, dalam kehidupan ini adakalanya kita seperti disuruh berlari, ada kalanya kita seperti digencet permasalahan kehidupan. Tapi sadarlah bahwa lakon-lakon itu merupakan cara Tuhan untuk membuat kita kuat. Hingga cita-cita kita bisa tercapai. Memang pada sata itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan , dan banyak air mata tertumpah. Tapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.
"Sahabat, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu terjatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."
Apabila Anda sedang mengalami ujian hidup, jangan kecil hati, karena hasil akhir dari apa yang sedang anda hadapi adalah kenyataan bahwa anda lebih baik, dan makin cantik dalam kehidupan ini.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum aku menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.
Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum!" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! tERIAKKU LAGI. Tapi orang ini berkata "belum!"
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.
Wanita itu berkata "belum!" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong! hentikan penyiksaan ini! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli akan tangisanku. Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku di dekat kaca. Aku melihar diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang sangat cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lau menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
-----------------------------------------------------------
Sahabat, dalam kehidupan ini adakalanya kita seperti disuruh berlari, ada kalanya kita seperti digencet permasalahan kehidupan. Tapi sadarlah bahwa lakon-lakon itu merupakan cara Tuhan untuk membuat kita kuat. Hingga cita-cita kita bisa tercapai. Memang pada sata itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan , dan banyak air mata tertumpah. Tapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.
"Sahabat, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu terjatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."
Apabila Anda sedang mengalami ujian hidup, jangan kecil hati, karena hasil akhir dari apa yang sedang anda hadapi adalah kenyataan bahwa anda lebih baik, dan makin cantik dalam kehidupan ini.
Langganan:
Postingan (Atom)